Mengenal Sistem Irigasi Tetes (Drip Irrigation System)



2020-10-21 10:24:47 , Admin Distan

Drip irrigation merupakan suatu sistem irigasi yang tengah populer pada masa ini. Sistem ini lebih menekan pada tingkat keefektifan serta keefisienan air irigasi yang diaplikasikan pada lahan budidaya. Sistem irigasi tetes juga sering juga dikombinasikan dengan perlakuan pemupukan pada tanaman, cara ini disebut fertigasi.

Dengan dilakukannya penerapan fertigasi pada lahan budidaya membuat pekerjaan yang dilakukan dalam berbudidaya tanaman lebih mudah dan efektif. Penambahan nutrisi pada saluran irigasi ini umumnya menggunakan nutrisi AB mix. Hal yang perlu dilakukan ketika melakukan pemupukan melalui fertigasi yaitu nilai EC (Electrical Conductivity) pada suatu larutan nutrisi tersebut. Kadar EC pada larutan nutrisi sangat penting diperhatikan, karena nilai ini dapat menunjukkan konsentrasi nutrisi yang terlarut dalam suatu larutan tersebut. Apabila konsentrasi nutrisi yang terlarut dalam jumlah banyak, maka nilai EC larutan tersebut akan semakin tinggi dan begitu juga sebaliknya (Ekaputra dkk, 2018).

Menurut Widiastuti dan Wijayanto (2017), sistem irigasi tetes cocok diaplikasikan pada lahan dengan sumber air terbatas, sistem irigasi tetes juga dapat menghemat pemakaian air karena dapat meminimalkan kehilangan air yang mungkin dapat terjadi akibat perkolasi, evaporasi dan aliran permukaan. 

 

 

 

Pengaplikasian irigasi tetes ini dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan memanfaatkan gaya gravitasi dan menggunakan pompa air. Tentunya terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan masing-masing diantara keduanya.

Pada sistem irigasi tetes terdapat beberapa komponen penting. Komponen tersebut meliputi pompa air, penampung air, tabung/kolam fertigasi, Saluran primer, Saluran sekunder (manifold), PCJ, dan emitter. 

 

 

 

Cara kerja sistem irigasi tetes ini dari awal pompa air akan menghisap air yang berasal dari sumber air, air tersebut kemudian ditampung dalam tempat penampungan air yang biasanya menggunakan tandon. Air selanjutnya dialirkan ke dalam kolam fertigasi. Pada tahapan ini, air ditambahkan nutrisi yang selanjutnya dialirkan menuju saluran primer, dalam tahap ini air tersebut dapat dialirkan menggunakan pompa air maupun hanya mengandalkan gaya gravitasi saja.

Air kemudian dialirkan menuju manifold (saluran sekunder), sebelum air dialirkan menuju emitter, air terlebih dahulu melewati PCJ. PCJ ini menjadi penghubung antara saluran sekunder dan emitter, PCJ juga berfungsi dalam menyeragamkan aliran air yang nantinya akan diteteskan kedalam media tanam. Adanya PCJ ini memberikan tingkat keseragaman yang tinggi dalam suatu sistem irigasi tetes yang diaplikasikan.

 

Faktor penghambat keberhasilan pengaplikasian irigasi tetes yaitu mengenai adanya penyumbatan yang umumnya terjadi pada PCJ atau pada emitter. Salah satu penyebab penyumbatan pada saluran tersebut umumnya diakibatkan oleh kotoran dari sumber air yang terikut yang pada akhirnya akan menumpuk pada saluran dan akhirnya dapat menyumbat saluran irigasi tersebut. Solusi untuk mencegah kemungkinan ini yakni bisa dengan cara memonitoring saluran irigasi secara berkala, sehingga apabila ada suatu masalah dalam saluran tersebut dapat segera teratasi sekaligus dilakukan perbaikan.

 

Sumber: 

Widiastuti, I dan D. S. Wijayanto. 2018. Implementasi Teknologi Irigasi Tetes pada Budidaya Tanaman Buah Naga. JTEP. 6(1) : 1-8.

Ekaputra, E. G., D. Yanti., D. Saputra, dan F. Irsyad. 2018. Rancang Bangun Sistem Irigasi Tetes Untuk Budidaya Cabai(Capsicum Annum L.) Dalam Greenhouse di Nagari Biaro,Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Jurnal Irigasi. 11(2): 103-112.

Penulis:  Prayoga Andi Dharmawan (IAAS LC Universitas Jember)

Drip irrigation merupakan suatu sistem irigasi yang tengah populer pada masa ini. Sistem ini lebih menekan pada tingkat keefektifan serta keefisienan air irigasi yang diaplikasikan pada lahan budidaya. Sistem irigasi tetes juga sering juga dikombinasikan dengan perlakuan pemupukan pada tanaman, cara ini disebut fertigasi.

Dengan dilakukannya penerapan fertigasi pada lahan budidaya membuat pekerjaan yang dilakukan dalam berbudidaya tanaman lebih mudah dan efektif. Penambahan nutrisi pada saluran irigasi ini umumnya menggunakan nutrisi AB mix. Hal yang perlu dilakukan ketika melakukan pemupukan melalui fertigasi yaitu nilai EC (Electrical Conductivity) pada suatu larutan nutrisi tersebut. Kadar EC pada larutan nutrisi sangat penting diperhatikan, karena nilai ini dapat menunjukkan konsentrasi nutrisi yang terlarut dalam suatu larutan tersebut. Apabila konsentrasi nutrisi yang terlarut dalam jumlah banyak, maka nilai EC larutan tersebut akan semakin tinggi dan begitu juga sebaliknya (Ekaputra dkk, 2018).

Menurut Widiastuti dan Wijayanto (2017), sistem irigasi tetes cocok diaplikasikan pada lahan dengan sumber air terbatas, sistem irigasi tetes juga dapat menghemat pemakaian air karena dapat meminimalkan kehilangan air yang mungkin dapat terjadi akibat perkolasi, evaporasi dan aliran permukaan. 

 

 

 

Pengaplikasian irigasi tetes ini dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan memanfaatkan gaya gravitasi dan menggunakan pompa air. Tentunya terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan masing-masing diantara keduanya.

Pada sistem irigasi tetes terdapat beberapa komponen penting. Komponen tersebut meliputi pompa air, penampung air, tabung/kolam fertigasi, Saluran primer, Saluran sekunder (manifold), PCJ, dan emitter. 

Cara kerja sistem irigasi tetes ini dari awal pompa air akan menghisap air yang berasal dari sumber air, air tersebut kemudian ditampung dalam tempat penampungan air yang biasanya menggunakan tandon. Air selanjutnya dialirkan ke dalam kolam fertigasi. Pada tahapan ini, air ditambahkan nutrisi yang selanjutnya dialirkan menuju saluran primer, dalam tahap ini air tersebut dapat dialirkan menggunakan pompa air maupun hanya mengandalkan gaya gravitasi saja.

 

 

 
 

Hak Cipta © 2018, DINAS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA PROVINSI JAWA BARAT, All Rights Reserved