Melawan ancaman kekeringan dengan inovasi penyiraman



2021-10-12 10:05:28 , Admin Distan

Kementerian Pertanian berinovasi menciptakan smart irrigation yang mengontrol penyiraman secara jarak jauh untuk mencegah kekeringan.

Tahun ini, Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan produksi beras sebesar 31,82 juta ton, lebih besar dari produksi tahun lalu sebesar 31,33 juta ton. Dengan perkiraan konsumsi masyarakat sebesar 29,58 juta ton beras, pemerintah memperkirakan akan ada surplus beras 9,63 juta ton di 2021. Ini surplus total, yang juga mencakup surplus tahun-tahun sebelumnya.  

Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan Bambang Pamudji kepada Alinea.id mengungkapkan, untuk mencapai target tersebut bukan hal mudah. Apalagi, selama ini sektor pertanian Indonesia masih dibayangi momok utama, salah satunya ancaman kekeringan. 

"Dan perkiraan dari Badan Meteorologi, Klimatolongi, dan Geofisika (BMKG) akan ada kekeringan di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Mudah-mudahan tidak terlalu mengganggu produksi,” ujar Bambang Pamudji, Jumat (8/10).

Sementara itu, meski tengah menghadapi musim hujan, September lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) justru meminta beberapa daerah seperti Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tengga Barat (NTB) untuk waspada. Ancaman bencana kekeringan diprediksi masih tetap ada.
 
Ancaman itu kian menakutkan ketika dihadapkan dengan perubahan iklim yang tengah menjangkiti dunia. Bumi yang semakin panas karena pemanasan global telah mengubah aliran uap air. Alhasil, kelembapan dan curah hujan di satu kawasan akan meningkat. 

Akibat pemanasan global membuat curah hujan lebih terkonsentrasi pada musim hujan, sedangkan musim kemarau cenderung lebih kering. Hal itulah yang kemudian menyebabkan kekeringan berkepanjangan dan suhu udara yang lebih tinggi akan meningkatkan penguapan.

"Sumber daya air yang terbatas ini yang bisa mempengaruhi irigasi lahan. Kemudian produksi pertanian juga rentan terhadap perubahan suhu, karena masing-masing tanaman butuh iklim tertentu," imbuh Bambang. 

Karenanya, sejak awal tahun sudah tak terhitung lagi kasus gagal panen yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Maret lalu misalnya, sekitar 80 hektare sawah di Desa Ceut Dah, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara gagal panen karena kekeringan.

Salah satu petani, Sofyan mengatakan, kekeringan di desanya sudah terjadi sejak dua bulan sebelumnya, tepatnya pada Januari 2020. Hujan yang tak kunjung turun di Aceh membuat sawah milik pria 48 tahun dan kawan-kawannya itu kering dan retak. Para petani menanggung kerugian hingga ratusan juta dari biaya penggarapan dan pemeliharan sawah. 

"Biasanya kita pakai pompa air untuk airi sawah. Tapi karena tidak ada air jadi tidak maksimal. Apalagi ini sawah sangat luas yang harus diari," kata Sofyan. 

Terbaru, 300 hektare sawah di Desa Sukaringin, Kecamatan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat dilaporkan mengalami gagal panen karena kekeringan yang sudah terjadi sejak sekitar delapan bulan lalu. 

Sekretaris Desa (Sekdes) Sukaringin Markim Sariputra mengatakan, kekeringan berkepanjangan itu telah membuat sumber air di Kali Cikarang mengering. Dia bilang, kekeringan tidak hanya disebabkan oleh hujan yang jarang turun, namun juga karena adanya sumbatan sampah di Kali Cikarang. 

"Karena itu kan sumber air warga, pertanian juga terdampak, bisa dilihat banyak tanaman yang kering dan kekurangan air," ujarnya, saat dikonfirmasi Alinea.id, Jumat (24/10). 

Karena kekeringan tersebut, Markim memperkirakan petani harus menanggung kerugian ratusan juta rupiah yang berasal dari perawatan sawah, mulai dari pemupukan hingga biaya pompa air.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Belantara Foundation Dolly Priatna menjelaskan, perubahan iklim, termasuk di dalamnya perubahan cuaca yang ekstrem, mempengaruhi segala aspek kehidupan di bumi. "Krisis pangan yang diakibatkan gagal panen berkepanjangan bisa terjadi karena cuaca yang tidak dapat lagi diprediksi,” katanya kepada Alinea.id, belum lama ini.

Oleh karena itu, sangat penting bagi para petani untuk memahami dampak krisis iklim dan cara mencegahnya. Salah satunya, dengan memberikan pengetahuan dan literasi atas kondisi iklim serta cuaca serta risikonya bagi lahan dan tanaman mereka. Penting juga meningkatkan kemampuan antisipasi para petani untuk menghadapi konsekuensi perubahan iklim.

“Strategi adaptasi yang amat tepat dan jitu diperlukan guna menghindari atau mengurangi risiko gagal panen,” imbuhnya.

Inovasi irigasi

Belum lama ini, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, untuk mengatasi dampak perubahan iklim, pihaknya tengah melakukan optimalisasi irigasi pertanian. Di saat yang sama, Kementan juga masih terus memperbarui inovasi smart irrigation atau irigasi otomatis.

Dia sepenuhnya sadar, air merupakan kebutuhan dasar di sektor pertanian. Hanya saja, untuk mendapatkan hasil yang optimal, air yang dalam hal ini bagian penting dari irigasi harus dikelola dengan baik. Baik saat musim penghujan maupun ketika kemarau.

"Karena kalau tidak dikelola dengan baik, air juga bisa menjadi petaka," tuturnya, September kemarin.

Terpisah, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Ali Jamil membeberkan, selain mengembangkan inovasi baru, ada beberapa cara yang digunakan untuk mengoptimalkan fungsi irigasi. Beberapa di antaranya adalah dengan menggunakan sarana embung, rehabilitasi jaringan irigasi tersier (RJIT) hingga pemompaan. 

“Misalnya ketika banjir ada pemompaan untuk menarik air, begitu pula saat musim kemarau. Artinya, secara umum kami sudah siapkan untuk mengantisipasi perubahan iklim,” kata Ali Jamil kepada Alinea.id, Kamis (30/9).

Terkait inovasi irigasi yang masih terus dikembangkan oleh Balai Besar Mekanisme Pertanian (BBP Mektan) Kementerian Pertanian ialah Smart Irrigation. Inovasi ini merupakan salah satu alat yang menggunakan konsep dan metode kontrol jarak jauh, monitoring, pengiriman data dan berbagai fungsi lainnya. Untuk pengoperasiannya dilakukan menggunakan sistem Internet of Things (IoT) yang sudah terhubung  dengan telepon genggam berbasis android.

Peneliti BPP Mektan Mahendra MT mengatakan, pengembangan Smart Irrigation sebenarnya sudah dilakukan sejak 2018. Dia bilang, ada dua tipe Smart Irrigation yang sudah dikembangkan BPP Mektan. 

Pertama, teknologi yang dikembangkan menggunakan sistem sensor pembacaan kondisi lahan berupa kondisi kadar air tanah dan lingkungan sekitar. Kedua, smart irrigation yang dapat membaca kondisi iklim di suatu daerah. 

"Kan beda tiap daerah. Misal nilai EP-nya (Evaporasi-red) berapa, pas musim hujan berapa curah hujannya dan kelembabannya. Itu bisa diukur," urai Mahendra saat dihubungi Alinea.id, Kamis (7/10).

Dengan sensor otomatis tersebut, system control untuk menyalakan/mematikan katup irigasi dapat dipantau dengan menggunakan mikrokontroler yang dapat terhubung dengan web server. Pemantauan data dan pengendalian dilakukan melalui internet oleh sebuah web server yang beralamat di www.smartfarming.litbang.pertanian.go.id.

 

Selain itu, sensor kelembaban tanah beserta data stasiun cuaca mini terbaca melalui perangkat keras mikrokontroler. Data ini direkam melalui jaringan internet ke alamat web server. Pada server telah terprogram dua tindakan yang dapat dilakukan sebagai umpan balik. 

Pertama, tindakan penyiraman otomatis apabila data komunikasi dengan server menunjukkan perlu penyiraman sebagaimana telah diatur oleh pengguna berdasarkan nilai ambang batas pembacaan sensor kadar lengas tanah. Kedua, selain terprogram secara otomatis, web server juga menyediakan fitur penyiraman jarak jauh yang secara spontan dapat langsung di click oleh pengguna dari lokasi yang berbeda.

Sistem kontrol berbasis internet dengan menggunakan web server ini memungkinan dikembangkan ke depan, ke arah fitur pengontrolan yang tidak hanya untuk penyiraman. Selain itu, untuk pemberian unsur hara dan pendeteksi kesuburan tanah serta terhubung secara spesifik dengan unsur pertumbuhan tanaman lainnya. Pada saat ini secara keseluruhan sistem ini lebih dikenal dengan istilah pertanian cerdas (smart farming system).

"Nah ini otomatis juga. Jadi mengurangi kerja manusia untuk melakukan penyiraman," lanjut dia.

Perkembangan luas lahan pertanian. (Sumber: Buku Statistik Data Lahan 2015-2019 Kementerian Pertanian).

Tahun  Lahan bukan sawah   Lahan sawah

2015     29.353.138 hektar    7.463.948 hektar

2016     27.730.368 hektar    7.105.145 hektar

2017     29.121.269 hektar    29.121.269 hektar

2018     28.555.790 hektar     8.187.734 hektar

2019    29.392.325 hektar      8.092.907 hektar

Meski mudah, Mahendra mengaku untuk investasi seperangkat alat irigasi modern ini tidak murah. Untuk seperangkat alat yang terdiri alat penyiram dan kontroler, setidaknya dipatok dengan harga Rp100 juta untuk masing-masing alat. 

"Itu untuk 1 hektare. Kalau 2,5 hektare dia akan beda lagi. Akan lebih murah. Karena alat kontrolnya satu saja. Itu yang membedakan. Kalau 10 hektare juga tetap 1 alat kontrolnya," jelasnya. 

Kata peneliti senior itu, mahalnya nilai investasi alat irigasi moder disebabkan oleh komponen-komponen smart irrigation yang sampai saat ini masih harus mengandalkan pasokan bahan baku impor. Karenanya, dia berharap, di masa depan nanti akan semakin banyak petani perorangan, tak hanya pertanian pabrikan yang menggunakan alat smart irrigation ini. 

Sehingga, akan mendorong para pengusaha swasta untuk memproduksi bahan baku alat irigasi modern. "Kalau begitu, mungkin harga alat smart irrigation bisa lebih murah," tutur dia. 

Sementara itu, Direktur Jenderal Ali Jamil mengatakan, semestinya irigasi digunakan untuk memasok air sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga di musim kemarau. Adapun sistem irigasi dapat dikembangkan melalui berbagai sumber air, seperti sumber air permukaan atau diperoleh dari air hujan.

"Irigasi adalah water management. Irigasi berfungsi mengatur air, baik air hujan maupun air tanah. Irigasi bukan hanya bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan di sawah, tetapi juga bisa untuk mendukung aktivitas lainnya," tandasnya. 

Sumber : https://www.alinea.id/bisnis/melawan-ancaman-kekeringan-dengan-inovasi-penyiraman-b2cCd97oP

 
 

Hak Cipta © 2018, DINAS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA PROVINSI JAWA BARAT, All Rights Reserved